Sabtu, 21 Mei 2011

MERKANTILISME “Jepang sebagai Macan Ekonomi”


Secara umum, Merkantilisme dapat diartikan sebagai suatu kebijaksanaan politik ekonomi dari negara-negara imperialis yang bertujuan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya kekayaan berupa logam mulia. Logam mulia ini dijadikan sebagai ukuran terhadap kekayaan, kesejahteraan, dan kekuasaan bagi negara yang bersangkutan. Dengan kata lain, semakin banyak logam mulia yang dimiliki oleh suatu negara imperialis maka semakin kaya dan semakin berkuasalah negara tersebut. Mereka percaya bahwa dengan kekayaan yang melimpah maka kesejahteraan akan meningkat dan kekuasaan pun semakin mudah untuk didapatkan.
     Tujuan Merkantilisme adalah untuk melindungi perkembangan industri perdagangan dan melindungi kekayaan negara yang ada di masing-masing negara. Inggris misalnya, menjadikan praktik politik ekonomi Merkantilisme dengan tujuan untuk:
a.       Mendapatkan neraca perdagangan aktif, yakni untuk memperoleh keuntungan besar dari  perdagangan luar negeri.
b.      Melibatkan pemerintah dalam segala lapangan usaha dan perdagangan
c.       Mendorong pemerintah untuk menguasai daerah lain yang akan dimanfaatkan sebagai daerah monopoli perdagangannya.
Pemahaman:
Merkantilisme merupakan kebijakan Negara untuk meningkatkan ekspor dan membatasi impor, sehingga tercipta surplus perdagangan yang penting bagi penciptaan kekayaan& kekuasaan.
Kebijakan Negara penganut Merkantilis :
·         Selalu Menggambarkan upaya berbagai pemerintah dalam arena ekomomi politik Internasional kontemporer untuk membantu industry nasional mereka dalam memperoleh keunggulan komparatif.
·         Untuk mengakumulasi dan mempertahankan kekayaan dan kekuasaan mereka, Negara terdorong untuk melakukan intervensi dan mempengaruhi perkembangan dalam ekonomi domestic maupun ekonomi internasional.
Neo-merkantilisme

Merefleksikan kebijakan ekonomi politik yang nasionalis yang diadopsi berbagai Negara pasca Perang Dunia II untuk melindungi diri dari perkembangan ekonomi politik internasional yang tidak menentu
Karakteristik:
(1) cenderungdefensif
(2) mengurangi penggunaan instrument proteksionis tradisional seperti hambatan tarif  melainkan melalui pemberian subsidi dan perlindungan terhadap industry nasional (strategic trade policy)
Maksud dari tindakan merkantilis:
  • Penting bagi kesejahteraan sebuah negara untuk mengakumulasi persediaan logam berharga. Hal ini dalam pandangan penganut merkantilisme merupakan satu-satunya sumber kesejahteraan.
  • Pemerintah membuat kebijakan ekonomi yang mempromosikan ekspor dan mengurangi impor, mengakibatkan surplus perdagangan yang harus dibayar dengan emas dan perak.
  • Larangan-larangan impor seperti bea masuk mengurangi impor, sementara subsidi pemerintah kepada eksportir meningkatkan ekspor. Tindakan tersebut menciptakan surplus perdagangan.

Politik Merkantilisme melahirkan terbentuknya persekutuan-persekutuan dagang masyarakat Eropa, seperti EIC (kongsi perdagangan Inggris di India) dan VOC (kongsi perdagangan Belanda di Indonesia). Inggris bangkit sejalan dengan zaman penjelajahan samudera untuk mencari daerah-daerah baru yang kemudian dijadikan sebagai koloni. Begitu juga dengan masyarakat Eropa lainnya, seperti Prancis, Belanda, dan Spanyol. Oleh karena itu dalam perkembangan politik ekonomi, Merkantilisme secara langsung atau tidak telah menimbulkan ekses lain, yakni perebutan daerah koloni.
Jepang sebagai Negara Macan Ekonomi Asia
Ekspansi yang dilakukan jepang selama periode awal “titik api” Perang Dunia ke II hingga di bumi hanguskan-nya Hiroshima dan Nagasaki mencerminkan betapa prinsip Merkantilis yang ada yaitu mencari daerah jajahan / object pemasaran produk serta mencari bahan mentah dan rempah – rempah yang murah / Cuma-Cuma yang jelas banyak terdapat di Bumi Asia sekaligus menjadi komoditi terlaku di Eropa dan Amerika guna mencapai ekonomi yang stabil, kekuasaaan tak terbatas serta kekuatan militer yang tak terkalahkan  melalui kekayaan yang besar yang didapat dengan kolonialisasi atau penjajahan sesuai cita cita yaitu “Dai Nippon” atau “Jepang Raya”.
Setelah kekalahan besar Jepang di Perang Dunia II, system ekonomi jepang tidak lah degragasi walaupun dalam kondisi ricuh, korban perang dimana mana, banyak warga kehilangan tempat tinggal nya. Sebaliknya bukan degradasi yang terjadi melainkan evolusi perekonomian yang Merkantilis menjadi Neo-merkantilis dengan ciri dan karakteristik yang defensive, buktinya mulai dari tahun 1960-an Jepang mengeluarkan kebijakan – kebijakan ekonomi yang jauh bertentangan dengan prinsip pasar bebas dan globalisasi. Pemerintah Jepang ingin sector – sector kunci perekonomian untuk berkembang dan memberikan perlindungan, proteksi dan subsidi kepada sector – sector tersebut dari kompetisi dengan Negara lain. Pemerintah tetap mempertahankan hak untuk mengintervensi dan mengatur kurs mata uang asing, dengan ini dia dapat membatasi arus investasi asing, hak untuk mengelola akusisi teknologi asing oleh perusahaan-perusahaan domestic dan hak untuk mempengaruhi komposisi perdagangan luar negri.Bank Ekspor Jepang dan Bank Pembangunan Jepang di-setup sebagai mesin guna mengaliri dana kepada perusahaan – perusahaan yang dibina oleh pemerintah.

Yang juga memiliki peran utama dan membuat Jepang “Take Off” dari Negara berkembang menjadi Negara maju adalah ide dimana Kementrian Industri dan perdangangan Internasional (MITI) yaitu sebuah departemen setingkat kementrian di Jepang yang mengatur produksi dan distribusai barang dan jasa. Badan ini mengembangkan :
·         rencana dan rancangan terkait struktur industry jepang,
·         mengendalikan perdagangan luar negeri Jepang
·         menjamin aliran tetap barang- barang di dalam perekonomian Nasional
·         mendorong perkembangan industry di bidang manufaktur, pertambangan dan distribusi
·         serta mengawasi usaha usaha untuk mendapatkan bahan mentah dan sumberdaya energy yang dapat diandalkan
oleh karena itu kemajuan dan kesuksesan ekonomi Jepang merupakan langkah yang digerakkan secara terpusat dan dipantau oleh pemerintah, serta pengalokasian sumber – sumberdaya tidak dilepaskan begitu saja kepada Pasar bebas. Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa “Macan Asia” yang menggenggam ekonomi dunia ini tidak mengikuti ajaran ortodhoks, tetapi justru intervensi pemerintah-lah yang menggerakkan Jepang untuk menuju kepada posisi dimana saat ini dia capai. Perekonomian “macan” secara prinsip adalah perekonomian berbasis konsumen, dimana ekspo merupakan mesin  penggerak ekonomi. Tepat seperti prinsip dalam merkantilisme atau kini evolusi nya yaitu neo-merkantilisme.
Kritik para Liberalis dan Neo-liberalis
Para penganut pasar bebas (liberal) khususnya Amerika melalui  pemirintahan Obama yang dilontarkan oleh Mentri ekonomi / menkeu federal dalam pidatonya saat Amerika harus memberikan suntikan dana atau bailout kepada pasar dan perusahaan yang hamper bangkrut mengklaim bahwa berbagai krisis ekonomi selama 50 Tahun terakhir secara umum desebabkan oleh tidak dilakukannya Liberalisasi di Negara – Negara lain yang tidak mengadopsi dengan baik pasar bebas. Bahkan seluruh Negara anggota G20 pun tahu pasti bahwa Negara yang member proteksi terhadap ekonomi nasional nya (Jepang Misalnya) tidak suka dengan Pasar sempurna.
Analisis dan Kesimpulan
Kritik tersebut menunjukkan bahwa betapa bencinya Liberalis terhadap proteksi dan subsidi yang dilakukan Negara – Negara yang menganut ekonomi seperti merkantilis, tetapi pada kenyataannya semua krisis selama 50 tahun terakhir menurut kami justru merupakan akibat dari dilakukannya Liberalisasi (dibebaskannya ekonomi) dari tekanan – tekanan untuk melakukan modernisasi (sebagai infffrastruktur pasar), dan terjadinya globalisasi selama dua decade terakhir. Masalah – masalah yang dihadapi banyak Negara-negara yang berkembang dan tidak tidak segera menjadi maju (akhirnya beralih menjadi Negara konsumtif dan meniru segala trend Negara maju) adalah karena Negara – Negara tersebut (sebagai negara ekonomi) tidak mampu untuk mengendalikan aliran uang, kekayaan, baik berupa modal maupun pendapatan oleh karena diadopsinya Pasar Bebas, tidak seperti yang dilakukan pleh Merkantilis yang defensive dan melindungi sector – sector kunci perdagan dan perekonomian dengan mengedepankan ekspor dan memangkas impor karena akan menghasilkan surplus.

Tidak ada komentar: